Jumat, 15 Maret 2024

Buka Suara; Musik dan Pembentukan Budaya Perlawanan

 

Pinrang Indie

Sebagai seni dan media ekspresi, perkembangan musik menemui berbagai macam aliran atau genre. Salah satunya adalah musik Noise yang mulai berkembang sejak periode awal tahun 1900-an. Berdasarkan kamus Oxford, kata ‘Noise’ didefenisikan sebagai bunyi yang bervolume tinggi sehingga membuat orang yang mendengarkannya menjadi tidak nyaman. Dari pengertian itu, kita dapat membayangkan eksperimen permainan musik Noise yang ‘ugal-ugalan’ dengan frekuensi bunyi-bunyian bising sesuai dengan keinginan dari pemusiknya.

Melalui tulisan The Art of Noise, Luigi Russolo memperkenalkan ide Noise pada tahun 1913 kepada Francesco Balilla Pratella yang merupakan seorang musikolog asal Italia. Dalam perkembangannya, tulisan Russolo kemudian memberikan pandangan yang berbeda tentang penciptaan musik dan cara pengekspresiannya yang sesuai dengan kondisi realitas.

Kelahiran musik Noise juga tidak terlepas dari gerakan kelompok-kelompok seniman yang tidak puas atas perubahan kondisi yang diakibatkan oleh Perang Dunia. Diantaranya, gerakan dari aliran seni Dada yang menilai bahwa kondisi sosial dan politik, tidak dapat dipisahkan dari aktivitas seni. Oleh karena itu, karya seni yang ditawarkan aliran Dadaisme cenderung bersifat sinis, aneh, sarat akan emosi, dan sikap penolakan atas kaidah-kaidah seni tradisional atau dengan kata lain, mereka menawarkan suatu konsep anti-seni (Hopkins, 2004).

Sejak saat itu, musik tidak lagi hanya tentang komersil, estetika, dan formasi bunyi-bunyian yang harmoni. Tapi juga bertransformasi menjadi media penyaluran ekspresi yang memberikan kritik sosial serta wahana pembentukan budaya perlawanan atas ketidapuasan dari kondsi realitas yang ada.

Di Indonesia sendiri, sejumlah hasil penelitian terkait budaya musik populer, menunjukkan transformasi yang serupa. Kritik terhadap realitas sosial ataupun yang ditujukan kepada pemerintah berhasil diartikulasikan dalam musik dan lirik-lirik yang menohok para pendengarnya. Penelitian berjudul “Bandung Lautan Hardcore: Territorialisation and Deterritorialisation in An Indonesia Hardcore Punk Scene” yang ditulis oleh Martin Iverson (2014) memotret perlawanan dari para pegiat dan penikmat musik Underground di Bandung atas perubahan sistem ekonomi Indonesia yang menjadi liberal di era kepemimpinan Presiden Soeharto.

Dari penelitian Iverson, pembaca akan disuguhkan pada kritik yang diekspresikan mulai dari kemandirian produksi, model distribusi, musik, lirik, hingga gaya berpakaian. Fenomena Undergound di Bandung, menjadi salah satu representasi yang mengajarkan betapa lekatnya musik dan dan budaya perlawanan.

Selain itu, terdapat penelitian yang berjudul “Kririk Sosial dalam Lagu Orkes Moral Pancaran Sinar Petromaks Tahun 1978-1982” karya Putra (2015). Dalam tulisannya, Putra menjelaskan kritik yang dituangkan dalam lirik-lirik lagu grup Pancaran Sinar Petromaks tentang kondisi masyarakat di zaman Orde Baru. Tidak hanya pada ranah politik, grup Pancaran Sinar Petromaks juga mengkritik kehidupan mahasiswa, perkembangan budaya, kesenjangan sosial yang terjadi, serta pembangunan yang tidak merata pada periode itu.

Di era kekinian, kritik dan perlawanan dengan memanfaatkan musik sebagai mediumnya semakin menggurita di Indonesia. Berikut beberapa lagu pilihan dari musisi-musisi dalam negeri yang menjadi rekomendasi untuk kalian dengarkan.

 

1.      Bars of Death – ‘Tak Ada Garuda di Dadaku’

‘Tak Ada Garuda di Dadaku’ adalah salah satu lagu dari album Morbid Funk yang dirilis oleh Bars of Death pada tahun 2020 lalu. Herry Sutresna dan Aszy Syamfizie selaku penulis dan komposernya, meramu literatur bangsa dengan kritik tajam yang seolah-olah mengisyaratkan kepada para pendengar untuk bergerak membangun budaya tempur rakyat. Perspektif yang berbeda dari kombinasi musik rap, beat yang menggugah, serta rima provokatif yang penuh dengan luapan emosi dalam nuansa militeristik akan membuat hati dan kuping para pendengarnya semakin panas.

Link: https://www.youtube.com/watch?v=ATfWgl4kqfU

2.      Scared of Bums – ‘Kepalkan Tangan Kiri’ Ft. Uncle Bob (Superman Is Dead)

Scared of Bums merupakan band asal Bali yang mengusung genre Metal Melodic Core. Melaui single ‘Kepalkan Tangan Kiri’ yang kemudian masuk ke dalam album Let’s Turn on a Fire, mereka menerjemahkan semangat perlawanan bagi para pejuang dari kelompok tertindas, kaum marjinal, dan orang-orang yang dirampas haknya dalam karya lagu yang berdurasi 5 menit 4 detik itu (Official Video). Mereka menggait Uncle Bob (Vocal/guitar Superman Is Dead) dengan vocal yang khas, menambah kesan heroik yang membuat jiwa para pendengarnya menyala.

Link: https://www.youtube.com/watch?v=4aHAMYwEP5g

3.      Morgue Vanguard – ‘Kontra Muerta’

Morgue Vanguard adalah project lain yang dikerjakan oleh kang Ucok A.k.a Herry Sutresna. Berbagai project dikerjakannya setelah redupnya Homicide dari belantara musik Underground yang kemudian membuatnya berkolaborasi dengan sejumlah musisi tanah air. Namun, kemunculan Morgue Vanguard kembali membangkitkan libido perang bagi para combatan yang rindu akan rima perlawanan sebagaimana yang disuguhkan kang Ucok saat berada di Homicide. Rilis tahun 2019, ‘Kontra Muerta’ menjadi single dengan flow yang segar akan membuat para pendengarnya merasa beruntung pernah mendengar karya segila itu.

Link: https://www.youtube.com/watch?v=-rsDaH9FOi8

4.      Efek Rumah Kaca – ‘Efek Rumah Kaca’

Karya selanjutnya datang dari sekumpulan bapak-bapak keren yang tergabung dalam grup band Efek Rumah Kaca. Bagi mereka yang terbiasa dengan playlist musik indie, pasti menjadikan grup band satu ini sebagai salah satu kiblat musik.  Nama band yang sama, dari album dan judul yang sama, memberikan dimensi yang berbeda dari lagu yang diberi judul ‘Efek Rumah Kaca’. Sebagaimana efek rumah kaca diketahui adalah isu lingkungan yang mengancam keberadaan manusia dan telah menjadi masalah bersama ditingkat global, lagu ‘Efek Rumah Kaca’ menjadi kritik terkait cara manusia memperlakukan alam. Pesan itu disampaikan dari pemilihan diksi disetiap liriknya yang akan mengantarkan para pendengar pada level kesadaran yang berbeda tentang lingkungan dan alam semesta.

Link: https://www.youtube.com/watch?v=bpTYx2m2sjs

5.      Thufail Al Ghifari – ‘Democrazy’

Al Ghifari adalah salah satu musisi rap underrated di Indonesia. Karya-karyanya tersegmentasi hanya dibeberapa kalangan. Hal itu bisa jadi karena rima dari setiap karyanya yang memberikan kesan religiusitas yang keras dari ajaran agama tertentu. Sehingga, tidak mudah untuk dinikmati ditemapat-tempat umum. Tapi terlepas dari semua itu, melalui lagu yang berjudul ‘Democrazy’, Al Ghifari menyalurkan kejengkelannya dalam ambience hip-hop yang kental dengan lirik cepat, padat, dan berat. Pendengarnya dapat membayangkan bagaimana Al Ghifari sedang mengejek penguasa, para elit politik, ekonomi, dan korporasi dari level nasional hingga internasional di lagu tersebut.

Link: https://www.youtube.com/watch?v=C6SXDv0kwt4

  

Referensi

Hopkins, D. (2004). Dada and Surrealism: A Very Short Introduction. New York: Oxford University Press Inc.

Martin-Iverson, S. (2014). Bandung Lautan Hardcore: Territorialisation and Deterritorialisation in An Indonesian Hardcore Punk Scene. Inter-Asia Cultural Studies.

Putra, R. P. (2015). Kritik Sosial Dalam Lagu 52 UMBARA : Indonesian Journal of Anthropology Utomo, Musik Noise: Sebuah Seni, Ekspresi, dan Perlawanan Orkes Moral Pancaran Sinar Petromaks Tahun 1978-1982. Avatara : E-Journal Pendidikan Sejarah

Rabu, 28 Februari 2024

Maccarita Vol.4 : Paradise With You, Sebuah Film Yang Mengangkat Wisata Pinrang

 

Film Pinrang

Beberapa tahun terakhir geliat sineas film lokal di Kabupaten Pinrang mulai menunjukkan percikan api-nya. Ini dimulai dari lahirnya film "Dia yang menunggu hujan reda" di tahun 2019 yang sebagian besar dikerjakan oleh anak-anak muda kota Pinrang.

Berbicara soal film sebagai sarana hiburan, film juga bisa menjadi sebuah sarana untuk memperkenalkan tempat wisata. Hal ini pernah dilakukan dan cukup berhasil meningkatkan pengunjung wisatawan pada suatu daerah. Seperti halnya Filosofi Kopi (2017) yang berhasil menciptakan tren 'Kopi/ Barista dan Coffeshop' ke dalam segmen anak-anak muda.

Berbicara tentang tempat wisata, tidak lengkap rasanya jika kita tidak menyebutkan film Laskar Pelangi (2005) sebagai salah satu film yang berhasil meningkatkan pengunjung wisata di pulau Belitung yang menjadi setting cerita tersebut. Bahkan berkat film tersebut, pemerintah setempat memutuskan untuk membangun "Museum Laskar Pelangi".

Hal inilah yang coba dilakukan sineas film dari teman-teman Ada Magnet film terhadap potensi wisata di Kab. Pinrang. Salah satu film yang sedang mereka garap berjudul 'Paradise With You'.

Dalam artikel Maccarita edisi ke-4 ini, Minpin diberi kesempatan untuk ngobrol-ngobrol terkait film 'Paradise With You' bersama produsernya langsung Syamsul S Lapattah atau biasa dipanggil Kak Sam. Selamat membaca :

Asslamualaikum kak Sam, apa kabar?

Baik, Alhamdulillah.

Minpin dengar-dengar sekarang lagi sibuk kerja project film ya kak?

Yap. Betul. Ada beberapa project film yang on proses..

Di sini kak Sam sebagai apa kak?

Saya sebagai Produser.

Boleh diceritakan sedikit premis filmnya tentang apa?

Kalo yang sudah kelar, Film Paradise With You. Film Ini bercerita tentang seorang  jurnalis majalah wisata (Adam) yang diberikan misi untuk mencari desa yang memiliki potensi wisata di Kabupaten Pinrang dan belum terekspos. Namun dalam pencariannya, dia bertemu dengan seseorang perempuan (Hawa) yang pernah menaruh rasa terhadapnya sewaktu di bangku kuliah dulu. 

Romantika yang terbangun di sepanjang perjalanan menyelesaikan misinya menjadi sesuatu yang berharga bagi dirinya, bagaimana ia menemukan kembali sesuatu yang hilang dari dirinya. Film ini disajikan dengan sangat ringan dan mudah dimengerti. Petualangan si Adam di film ini akan menjadi awal dari kisahnya yang akan membuka jalan menuju film layar lebar nantinya.


Pesan dan gagasan apa yang mau disampaikan filmnya kak?

Gagasan yang ingin disampaikan lewat film ini adalah bahwa lewat film ini kita mengajak rekan2 yang bekerja di Industri kreatif untuk berkarya dan membuka ruang kolaborasi, berpikir untuk memajukan daerah dengan tidak meninggalkan ciri khas yang menjadi bagian penting kearifan lokal. Poinnya adalah, bagaimana memulai membangun dan menggerakkan ekosistem perfilman di daerah menuju kemandirian dalam berkarya dengan segala keterbatasan.

Ohiya, katanya setting tempat filmnya di Pinrang, benar kah? Dan Kenapa memilih setting tempat di sana?

Setting lokasi semuanya di Pinrang. Karena salah satu tujuan utama dari film ini adalah mengangkat potensi wisata di Kabupaten Pinrang.

Ada tidak, Fun fact atau kejadian-kejadian menarik selama proses syuting?

Kejadian2 menarik selama proses syuting sih banyak. Diantaranya syuting rasa liburan karena lokasi syutingnya di Pantai AlFath Stira Paradise, di daerah daratan tinggi Desa Letta, dan Lapangan Udara Malimpung. Yang paling lucu saat si Adam naik pesawat.

Awalnya sangat gugup sampai2 lututnya gemetaran. Bukan hanya menarik, ada juga yang menantang, misalnya mobil yang ditumpangi oleh tim hampir terbalik ke jurang.

Ohiya, sebelumnya kalau nda salah kan Kak Sam ini pernah terlibat di proyek film lain. Apa yg membedakan dengan film Paradise with you?

Sebelumnya saya terlibat di film Dia Yang Menunggu Hujan Reda. Kalau di film DYMHR Ini, saya berperan sebagai aktor (Ilham) sekaligus sebagai Line Producer. Film ini digarap sebagai proyek aktualisasi berbasis komunitas yang mana kebutuhannya untuk membuat film dengan baik dan benar.

DYMHR menggandeng bang Halim Gani Safia sebagai sutradara sekaligus mentor kita. Sedangkan di film untuk film Paradise With You, kita dibantu oleh Dinas Pariwisata, Pemuda dan Olahraga Kabupaten Pinrang untuk anggaran stimulan pembuatan film ini.

Terakhir kak, kapan rencana perilisan filmnya dan apa harapannya sendiri terhadap filmnya kalau sudah rilis nanti?

Rencana rilis film Paradise With You adalah antara di bulan maret ataupun setelah lebaran 2024 ini. Harapan kami, semoga film ini mampu mentrigger rekan2 sineas/ filmmaker di daerah untuk tetap semangat berkarya. Selain itu, kita juga berharap agar masyarakat luar Sulsel nantinya tau bahwa ada suku Bugis Pattinjo yang merupakan suku asli dari Kabupaten Pinrang, dengan panorama alam desanya yang mempesona.

Terakhir, semoga dengan film ini, pesona wisata di Kabupaten Pinrang mampu menarik lebih banyak pihak untuk mengembangkan potensi wisata, baik yang belum beroperasi maupun yang sementara tumbuh, seperti halnya wisata pantai Alfath Stira Paradise, dan Wisata Dirgantara di Malimpung.

Terima kasih banyak atas kesempatannya kak Sam. Minpin doakan semoga filmnya bisa diterima dengan baik terkhusus oleh masyarakat Pinrang sendiri ๐Ÿ™๐Ÿ˜

Yap.. Makasih banyak juga tentunya bagi yang berkontribusi dan sudah menjadi bagian dari film ini. Bagi semua pihak yang terlibat, kalian semua hebat! Jangan berhenti nyalakan karya! Karya yang akan kita kenang untuk selamanya. Makasih juga minpin, semoga semakin jaya dan menyala!

__

Dibandingkan dengan daerah dan kota lain, eksistensi sineas film di Kab. Pinrang bisa dibilang masih terus bertumbuh dengan pelan. Besar kecilnya pertumbuhan itu tentu perlu didukung oleh ekosistem yang baik serta support dari berbagai komunitas dan institusi pemerintahan yang bergerak secara beriringan.

Pelan namun pasti, roda sineas film di Kab. Pinrang akan bergerak dan memasuki panggung dan festival seni di tanah kelahirannya sendiri.

PS : Konten Maccarita adalah persembahan dari teman-teman tim Pinrang Indie. Artikel dalam konten Maccarita akan berfokus membahas tentang obrolan seputar musik, seni dan tokoh-tokoh yang berpengaruh di bidangnya, terkhusus di daerah Kab. Pinrang.

Selasa, 25 Juli 2023

Talkmates Vol.1 ; Suarakan dirimu melalui lirik lagu, bersama Fais Palintan


Talkmates merupakan salah satu program dari Pinrang Indie yang bertujuan untuk membuka ruang kolektif, kolaborasi dan berbagi ilmu antara para pelaku kreatif di Kab. Pinrang. 

Dalam sesi pembuka kali ini, kita akan kehadiran Fais Palintan yang akan berbagi proses kreatifnya dalam melahirkan lirik-lirik sederhana namum dekat dengan keseharian kita.

Fais Palintan merupakan musisi berbakat asal Parepare, Sulawesi Selatan. Ia berposisi sebagai penyanyi/penulis lagu sekaligus gitaris dengan suara dan petikan gitar yang meneduhkan dengan materi yang mudah lengket di telinga.

Saat ini Fais telah merilis beragam single seperti "Semoga Sesuai Rencana" dan album EP bertajuk "Teman Rumah".

Solois satu ini sudah banyak mencicipi panggung-panggung musik baik di Pare-pare hingga Sulawesi Selatan. Mulai dari Rock in Celebes, Prolog Fest hingga Makasar International Writer Festival

Bagi teman-teman yang tertarik untuk mendaftar, silahlan klik link dibawah :

Form Pendaftaran

Senin, 15 Mei 2023

Maccarita Vol.3 : Lebih dekat dengan Yops Fest bersama Firsal.R


Pinrang Indie

Yops Fest bisa dibilang cukup sukses membayar dahaga para pecinta festival musik untuk pertama kalinya pada tanggal 10 Mei 2023. Festival yang di inisiasi oleh Yops Space ini dilaksanakan di Pare=pare tepatnya di lapangan parkir Yops Space Cafe, tanggul Cempae.

Walau sempat diguyur hujan, festival tersebut tetap dibanjiri ribuan penonton dari berbagai daerah, tidak hanya dari Pare-pare. Beberapa penonton yang datang berasal dari kota yang berdekatan dengan Pare-pare seperti Pinrang, Barru hingga Polman.

Yops Fest bisa dibilang  adalah salah satu festival pembuka di Pare-pare yang diadakan oleh pihak non government organisation. Tidak tanggung-tanggung, demi mengundang minat masyarakat, Yops Fest mengundang dua band nasional seperti Lastchild dan Vierra. Selain itu, Yops Fest juga diwarnai oleh beberapa local heroes kebanggaan kota Pare-pare seperti Fais Falintan dan Teman Rumah, Quick Band, Explo, Senada Band dan Dj Anize.

Dalam tulisan kali ini, minpin berkesempatan untuk maccarita bersama inisiator dari Yops Fest, Kak Firsal Ruslan. Berikut isi obrolannya :

Minpin : Halo kak Firsal, apa kabar?

Firsal : Alhamdulillah baik

Minpin : Sebelumnya Minpin mau kasih selamat atas kesukesan Yops Fest 2023 kemarin, luar biasa keren. Walaupun sempat hujan. Tapi tetap berjalan lancar. Bagaimana perasaan ta melihat euforia Yops Fest kemarin kak? 

Firsal : Sangat luar biasa dan harunya juga luar biasa. Ini tidak terlepas dari kinerja seluruh tim Yops Fest, apalagi hari itu sempat diguyur hujan. Walaupun juga malamnya berhenti. Mungkin point pentingnya bahwa sekarang pecinta festival sudah cukup dewasa dalam menonton sebuah festival atau konser karena mereka tetap happy dan bahkan ada yang sudah menyiapkan jas hujan. Ini yang harus sangat kita apresiasi khususnya untuk teman-teman Yops peolple

Pinrang IndiePinrang Indie

Minpin : Ohiya, itu kemarin persiapannya berapa lama kak Firsal? Dengar-dengar di awal banyak orang yang pesimis dengan Yops Fest?

Firsal : Persiapan kita sebenarnya kurang lebih tiga bulan secara teknis acara. Tapi kalau ide dan konsep itu sudah berbulan-bulan karena untuk pematangan ide itu sangat butuh banyak waktu.

Nah kalau untuk yang banyak pesimis awalnya, memang iya ada beberapa. Mungkin karena festival ini berbayar dan tentunya ketakutan kita semua apakah ada yang mau membeli.

Dan pada akhirnya lebih dari sebuah ketakutan yang menjadi lebih dari ekspektasi juga. Tapi sekali lagi berkat kerja keras tim Yops Festival

Minpin : Apa kendala paling besar selama persiapan pegelaran Yops Fest kemarin kak Firsal?

Firsal : Kendala terbesar ada di persoalan edukasi dan mindset para calon pembeli, masalah edukasi ini menyangkut hal-hal apa yang ada di dalam festival, apakah mereka puas ketika mengeluarkan duit lebih hanya untuk menonton sebuah konser.

Nah jatuhnya ke mindset karena tanpa maksud ingin menyinggung siapa pun, rata-rata kemarin kita di hadapkan dengan calon pembeli yang sudah terbiasa ikut event tidak berbayar dan calon pembeli yang mengharapkan jalur orang dalam. Tapi tak apa, ini adalah tugas kita semua bagaimana bisa membuat satu perubahan agar jauh lebih dewasa melihat sebuah konser atau festival

Pinrang Indie
Pinrang Indie

Minpin : Untuk mengantisipasi kendala di event selanjutnya, hal-hal apa yang akan dilakukan teman=teman Yops kedepan?

Firsal : Pasti di setiap selesai kegiatan, tetap akan ada namanya evaluasi karena kan lagi-lagi tidak ada yang sempurna.

Namun khusus nya para-para tim Yops Fest akan lebih banyak bercengkrama dengan para senior kita untuk dunia event dan juga harus lebih banyak melihat reverensi.

Minpin : Adakah rencana kak Firsal buat jadikan Yops Fest sebagai Festival tahunan?

Firsal : Sejatinya Yops Festival ini adalah event tahunan, nah setelah event kemarin kita sebentar lagi akan mengumumkan bahwa Yops Festival adalah tahunan.

Minpin : Untuk project dalam waktu dekat ini, boleh di spill sedikit kak apa-apa saja itu yg sedang dikerjakan? 

Firsal : Wah doakan saja teman-teman dan team untuk buat konsep secepatnya, entah tahun ini atau tahun depan.

Minpin : Apa harapan kak Firsal setelah selesainya Yops Fest 2023 kemarin kak?

Firsal : Pastinyaa semua Yops people kita kemarin pasti senang sesuai tema kita healing, jadi apapun yang kita kerjakan dan nantinya akan kita buat sudah tidak ada kekhawatiran lagi.

Pinrang Indie
Pinrang Indie

Minpin : Kalo ada tiga nama yg mau Kak Firsal ucapkan terima kasih atas kesuksesan Yops Fest kemarin, siapa2 orangnya kak?

Firsal : Wah sebenarnya banyak sekali karena lagi-lagi ini tidak terlepas dari seluruh tim yang bekerja sama mulai tim vendor-nya kita di produksian, sponsor-sponsor-nya kita juga dan apalagi stakeholder yang banyak memberi petunjuk juga untuk kepentingan umum.

Tapi karena harus nama yang pertama Hajir, kedua Adit dan ketiga Mutmainnah

Minpin : Wahh, terima kasih banyak atas jawaban dan kesempatannya kak Firsal. Sukses terus untuk Yops Fest dan project2 kedepannya. Semoga makin pecah ๐Ÿ”ฅ

Firsal : Sama-sama Minpin :) Sukses untuk kita semua.

Yops Fest adalah salah satu event yang lahir dari keresahan para anak-anak muda se-ajatappareng menyangkut festival musik yang sudah sangat jarang diadakan di kota kelahiran mereka.

Kesuksesan Yops Fest 2023 bisa menjadi bukti bagaimana kekuatan pasar pecinta musik festival di daerah tidak bisa diremehkan. Dengan adanya event musik yang lahir dari inisiatif anak-anak muda di kota asalnya, bisa memantik daerah lain untuk berkontribusi dalam membuka lapangan kerja dan mempromosikan daerahnya melalui event musik festival.

PS : Konten Maccarita adalah persembahan dari teman-teman tim Pinrang Indie. Artikel dalam konten Maccarita akan berfokus membahas tentang obrolan seputar musik, seni dan tokoh-tokoh yang berpengaruh di bidangnya.

Selasa, 09 Mei 2023

Membayar Kerinduan Pecinta Festival Musik di Pare-pare, Yops Space Gelar Yops Fest 2023



Festival musik Yops Fest akan hadir tahun ini menghibur para penggemar musik. Untuk pertama kalinya kafe Yops Space menggelar sebuah festival musik di Kota Parepare.


Menampilkan band ibu kota dan tuan rumah Parepare, di antaranya Vierratale, Last Child, Quick Band, Explo, Senada, Fais Palintan & Teman, dan DJ Anize.


Akan dilaksanakan pada hari Rabu, 10 Mei 2023, di Lapangan Parkir Yops Space, Tanggul Soreang, Kota Parepare.


Yops Fest hadir untuk menjawab kerinduan pecinta musik Parepare yang sudah lama tidak menonton langsung penampilan band-band ternama. Selain itu Yops Fest ingin menghadirkan sebuah acara musik di Parepare tanpa harus pergi jauh-jauh keluar kota.


Mengangkat konsep A Healing Experience, Yops Fest akan membuat festival musik sebagai tempat healing yang ada di Parepare. Konsep tersebut didukung oleh lokasi digelarnya festival yang berhadapan langsung teluk Parepare, dan bisa melihat langsung terbenamnya matahari.



Sebelum ke acara utama, Yops Fest menggelar tur ke beberapa kota terdekat Parepare, seperti Kabupaten Pinrang, Sidrap, dan Barru. Tur tersebut sebagai bagian dari promosi acara yang diisi kegiatan bincang-bincang, penampilan musik, dan tiket box. 


Untuk segala informasi terbaru seputar Yops Fest diumumkan lewat akun Instagram @yopsfest.

Rabu, 25 Januari 2023

Maccarita Vol.2 : Mengeksplorasi Emosi dalam Lagu Bersama Mayang Koes Herawati


Pinrang Indie

Kembali lagi bersama Minpin dalam segmen Maccarita, volume kedua. Kalau kemarin kita sudah ngobrol-ngobrol bersama kak Yuki Vii, Kali ini, Minpin berkesempatan untuk ngobrol bersama salah seorang musisi muda kebanggaan kota Pinrang kita, Mayang Koes Herawati.

Mungkin sebagian dari kita bertanya-tanya. Siapa Mayang Koes Herawati?


Sebelum kita masuk ke sesi Maccarita. Minpin akan memperkenalkan sedikit tentang Mayang Koes Herawati. 

Jadi, pada kisaran tahun 2018-2019. Teman-teman sineas kreatif di Kota Pinrang berhasil menyelesaikan salah satu project film yang cukup ambisius. Film tersebut berjudul "Dia yang Menunggu Hujan Reda". Film tersebut dikerjakan oleh 90% anak-anak muda kreatif di Kota Pinrang.

Selain film, aspek yang cukup menonjol dalam project film tersebut adalah salah satu soundtrack yang dibawakan oleh Kak Mayang yang berjudul "Masih Sama". Berikut cuplikan video klipnya :



Bagaimana? Penasaran untuk mengenal Kak Mayang lebih lanjut. Tanpa berlama-lama. Ini dia Maccarita volume 2, bersama Kak Mayang Koes Herawati.

Minpin : Haloo, apa kabar Kak Mayang?

Mayang : Halooo juga Pinrang Indie, Alhamdulillah baik-baik..

Minpin : Allhmadulillah, panggil minpin saja kak ๐Ÿ˜

Mayang : Okidoki minpin! 

Minpin : Untuk sekarang kak Mayang lagi sibuk apa nih kak?

Mayang : Duh, sekarang kalau ditanya lagi sibuk apa… saya sebenernya ga lagi sibuk-sibuk banget, cuman kebetulan bulan Oktober 2022 lalu baru aja graduate. Jadi sekarang lagi sibuk apply resume ke beberapa Company, kebetulan juga kemaren habis beres interview di salah satu perusahaan Konsultan. Tolong doakan supaya hasil interviewnya diterima yhhhaa!!๐Ÿฅน๐Ÿ‘‰๐Ÿฝ๐Ÿ‘ˆ๐Ÿฝ

Selain dari itu, saya mengisi waktu ngerjain beberapa project campaign sama beberapa UMKM & Brand lokal yg ada di Makassar dan sekitarnya nih minpin hehehe๐Ÿ™๐Ÿผ Alhamdulillahnya sih, masih produktif sampai sekarang☺️

Minpin : Wah, sungguh produktif sekali ya Kak Mayang. Orang kalo produktif sekali memang biasanya lagi nganggur wkwkwk. Ampun, Minpin bercanda kak

Mayang : Hahaha bener banget minpin!! istilahnya sok sibuk๐Ÿคญ๐Ÿ˜‚

Minpin : Ngomong-ngomong soal produktif nih kak. Minpin mau tanya-tanya produktifitasnya dalam hal musik sampai saat ini apakah masih aktif?

Mayang : Ngomongin musik, sebenernya kemarin itu sempat istirahat karena ada urusan kampus dan seisinya. Eh, kebawa sampai sekarang. Jadi untuk musik sendiri ngga sesibuk dan seproduktif dulu nih minpin. Tapi kalau ditanya apa masih bisa nyanyi? Jawabannya, Alhamdulillah MASIH!๐Ÿ˜œ

Minpin : Congrats atas graduation-nya Kak Mayang. Kuliahnya jurusan apa kak?

Mayang : Jurusan Teknik Arsitektur☺️

Minpin : Gokil. Masih ada seni-seninya sedikit lah kak.

Balik lagi masalah musik kak Mayang. Minpin kan tau Kak Mayang dari single Masih Sama yg jadi ostnya Dia yang menunggu hujan reda. Bisa diceritakan sedikit bagaimana proses lahirnya itu kak?

Mayang : Boleeh dong

Jadi cerita kenapa bisa ngisi OST.DYMHR itu berawal dari diajak sama temenku, namanya Iqbal sama Kak Fauzan (Diorama). Mereka berdua itu udah kaya mentor sekaligus sodaraku di bidang musik. Kenapa saya bilang kaya gitu, karena dari mereka saya sadar saya bisa nyanyi๐Ÿ˜… dan dari mereka juga saya banyak belajar soal musik.

Dari iqbal, kak fauzan… waktu itu mereka ngabarin kalau lagi butuh vokal perempuan buat ngisi lagu untuk dijadiin soundtrack film lokal karya seniman-seniman Pinrang. Pertamanya saya sempet ragu.

“Ah, apa bisa?”
“Kenapa mesti saya?”
“Kayanya suaraku ga sebagus itu deh buat rekaman” dan masih bangak lagi ketidakpercayaan diriku yg lain.

Tapi diyakinin sama Iqbal, kalau suara saya yg paling cocok buat lagu itu.. Akhirnya diajak meeting sama iqbal dan kka fauzan, ketemu sama orang-orang hebat lainnya yg ngehandle project lagu ini Antara lain Kak Zahreal, Bang Fadli Frontliner, Kak Fajar Bakri, Kak Aswin Munir, Kak Wahyu Ramadhan dan Kak Halim Gani (Pak Sutradara DYMHR). Setelah diyakinin sama kak fauzan dan iqbal, dikenalin sama orang-orang hebat lainnya.. saya langsung coba rehearsal (latihan rekaman) di Studio bang Fadli. Nahhh, this is where the magic is made๐Ÿ˜Ž

Di studio bang fadli saya banyak ngabisin waktu buat ngulik lirik dan nada buat lagu Masih Sama bareng kak fauzan dan iqbal. Tentunya itu gak sebentar, dan takenya gak cuma sehari langsung beres. Kurang lebih seminggu ngabisin waktu di studio.Dan ketika lagu itu selesai, semuanya suka. Kak fauzan, Iqbal dan Bang Fadli bilang “emang lagu ini cocoknya sama suara Mayang” jiakhhh๐Ÿคช

Yang awalnya saya gak pede sama suara sendiri, akhirnya seneng juga bisa ikut berkontribusi dalam salah satu karya anak-anak Pinrang. Ada perasaan malu, seneng, bangga dan takut. Takut kenapa? Takut kalau ga semua orang suka sama suaraku, takut kalau ekspektasi orang terlalu tinggi terhadap lagu ini, takut mengecewakan banyak pihak juga. Tapi syukur Alhamdulillah, semua respon yang saya dapat waktu itu dari proses rekaman sampai proses launching VC dan bahkan launching Film DYMHR, semua responnya bagus-bagus. MasyaAllah

Waahhh panjang juga ceritanya yahhh haha jadi gituuu minpin☺️

Minpin : Gokil, sungguh effort dan panjang sekali prosesnya kak. Salut!


Dari yang awalnya tidak percaya diri sampai sekarang bisa khilaf punya 2 single wkwkwk. Eh, sekarang sudah berapa karyanya kak? 2 atau ada lagi yang lain?

Mayang : Yup bener minpin! Sampai hari ini yg resmi udah launching itu 2 lagu. Sebenernya ada project cover sama kak fauzan yang belum launch, nunggu waktu pas buat dilaunching aja nih sebenernya! Huhuhuhu๐Ÿ‘‰๐Ÿฝ๐Ÿ‘ˆ๐Ÿฝ Doain aja yaaa biar ketemu waktu pasnya☺️

Minpin : Widih, patut ditunggu. Sepertinya sekarang sudah sangat percaya diri sekali ya kak wkwkwk

Mayang : Alhamdulillah, sewajarnya dan sebatasnya percaya diri dalam hal yg baik dan wajar saja๐Ÿ˜‰ karena kalau terlalu percaya diri juga, kayanyaaaaa not good๐Ÿ˜…๐Ÿ™๐Ÿผ


Minpin : Lagu selain Masih Sama kalo nda salah judulnya Pilu ya kak? Boleh diceritakan sedikit, sebenarnya kedua lagu itu bercerita tentang apa kak?

Mayang : Ner bangettt minpin! Jadi sebenernya lagu Masih Sama itu ditulis sama Kak Miftahul Fauzan (Diorama) minpin, jadi saya ceritakan menurut sudut pandang si penulis dulu yaaaa…

Dari sudut pandang si penulis, lagu Masih Sama ini bercerita tentang orang yang ‘mengejek’ seseorang yang sedang gamon (gagal move on) ngasih tau ke orang yang gamon ini,

“Kenapa sih masih belum bisa move on?”
“Padahal masih banyak sekali mimpi-mimpi yang bisa kamu capai, tapi kamu malah fokus dan stuck disini-sini saja”
“Payah banget, lemah, begitu saja gabisa move on”
“Gara-gara gamon bgini kamu sampai lupa cara bernyanyi”

Nah maknanya itu ibarat orang yang saking gamonnya dia jadi gabisa ngapa-ngapain, ga produktif, lemes, gabisa makan, jadi males-malesan, ansos daaan banyak hal lain yang seharusnya dia ga kaya gitu. Tapi tau tidak plot twistnya dimana minpin?

Seseorang yg gamon itu, adalah si penulis sendiri! Jadi lagu ini makna nya deep banget!๐Ÿฅน POV dia ngejek dirinya sendiri. POV dia ngomong ke dirinya sendiri.

Gituuu minpin!๐Ÿ˜ญ๐Ÿ™๐Ÿผhuhuhu

Untuk Lagu Pilu ditulis sama Muh. Iqbal (iqbal) waktu dia di Jogja. beranjak dari pengalaman pribadi (lagi)๐Ÿฅฒ Sepertinya teman-teman senimanku memang banyak yg gamon minpin๐Ÿ˜ญ๐Ÿ˜‚

Oke lanjut, Jadi Iqbal yang tulis liriknya, saya juga sempat membantu sedikit dalam penulisan lirik ini. Sedikit saja. Karena naskah dari Iqbal sudah cukup matang. Lagu ini berkisah tentang orang yang belum bisa lupa tentang kisah masa lalunya. Jadi ada hal yang menjadi trigger buat si orang ini, yaitu Hujan. biasanya kita kalo sayang sama orang, pasti ada satu atau beberapa hal yg bikin kita keinget sama orang itu kan minpin? Nah, dalam hal ini tuh yg bikin si penulis keinget terus sama orang itu tuh Hujan. Jadi setiap turun hujan, dia kaya flashback. Sesederhana itu, tapi untuk beberapa orang, ada yg relate. dan bedanya sama lagu Masih Sama, di lagu Pilu ini nyeritain kalo si penulis ini masih besar harapan untuk bisa kembali sama si orang ini. Gituuu minpin๐Ÿฅน๐Ÿ™๐Ÿผ

Ibaratnya, masih berharap lah buat balikan. masih berharap disembuhin sama lukanya sendiri. Cailahhhh๐Ÿค˜๐Ÿฝ๐Ÿ˜ญ

Minpin : Gila sih, sungguh melow sekali arti dibelakangnya ๐Ÿ˜ญ Kayaknya sudah bisa bikin group Wa penulis liriknya ini, namanya; Para Penulis Gagal Move On wkwk

Pertanyaannya adalah, kalo penulisnya gagal move on. Bagaimana caranya penyanyinya mengekpresikan feel dalam lagu? Apakah kak Mayang juga punya pengalaman gagal move on? ๐Ÿ˜‚

Mayang :  Huahh!! Pertanyaan bagus! Ga banyak orang yang nanya gini ke saya. Terimakasih minpin atas pertanyaannya๐Ÿ™๐Ÿผ

Untuk saya pribadi, persoalan rasa itu sangat penting dalam proses rekaman. Karena ada yang pernah bilang, Apa yang berasal dari hari akan sampai ke hati. Tul?๐Ÿ˜‰

Jadi yang saya lakuin sebenernya cukup sederhana. Pertama, saya harus tau apakah ada cerita khusus dibalik naskah lirik yang akan saya nyanyikan. Kedua, saya harus mencoba berusaha memosisikan/membayangkan diri di dalam situasi cerita tersebut. Kalaupun situasi/posisi tsb pernah saya alami, berarti itu bonus. Sisa bagaimana saya me-recall kembali perasaan yg pernah saya rasa itu untuk saya hadirkan kembali ketika saya rekaman. Jika situasi/posisi tsb belum pernah saya alami, biasanya saya coba butuh waktu untuk mendalami situasi dan peran saya, sampai saya bisa buat ngebayangin kalau saya adalah orang yang ada dalam naskah lirik itu.

Sederhana, tapi terkadang cukup sulit minpin… 

Kalau pertanyaannya apakah saya juga punya pengalaman gagal move on apa tidak, jawabnya gimanaaaa yaaa๐Ÿคซ๐Ÿ˜‚

Minpin : Hmm. Paham kak. Berarti kak Mayang ini sebelum menyanyi, ternyata ada proses olah rasa juga ya. Menurut minpin itu salah satu proses kreatif yang sulit sih. Hal yg sama dilakukan orang kalo mau jadi aktor film.


Mayang : Tul banget!!!



Minpin : Okey, balik lagi ke laptop kak. Menurut kak Mayang nih. Bagaimana apresiasi musik di anak-anak muda di kota Pinrang setelah kak Mayang sudah mengeluarkan dua single?

Mayang : Hmm, sejujurnya kalau yang saya lihat di sekitarku, syukur Alhamdulillah ada banyak sekali apresiasi yang orang-orang berikan untuk saya setiap kali saya ada project musik. Tapi saya rasa masih banyak teman-teman musisi lain yang semestinya bisa dinotice juga karyanya. Yang mana karya-karya mereka tidak kalah bagus dan hebat.

Dan yang paling penting bagaimana kita sebagai pendengar, penikmat, dan bahkan seorang seniman atau musisi itu sendiri harus bisa kasih perhatian dan dukungan juga untuk teman-teman musisi/seniman lain di Pinrang. Kenapa? Karena kalau bukan kita, siapa lagi yang bisa membesarkan nama Daerah kita sendiri?

Saya tidak bisa bilang kalau apresiasi anak muda Pinrang masih kurang terhadap musik, hanya saja saya rasa masih ada banyak sekali karya-karya musisi Pinrang lainnya yang semestinya lebih bisa dinotice.

Minpin : Minpin setuju kak! Sudah seharusnya memang kita membangun budaya apresiasi terhadap seluruh bidang kreatif di kota Pinrang. Bukan malah saling sentimen antar sesama orang-orang yang bekerja di bidang kreatif.

Mayang : Huh benerrr minpin! Semoga dengan berjalannya waktu, banyak anak-anak Pinrang yang bisa lebih aware persoalan ini yhaaa

Minpin : Kalo musisi di Pinrang sendiri, siapa-siapa saja yg karyanya jadi favorit kak Mayang?

Mayang : Waduhhhh! Ada banyak sekali karya-karya anak Pinrang yg sebenernya bikin saya kagum sambil gumam dalam hati “wah ternyata ada loh orang Pinrang yg bakatnya keren-keren” ๐Ÿฅน

Beberapa aja yg bisa saya sebutin yhhhaa minpin, Contoh terdekat aja dulu nih, Kak Miftahul Fauzan (Diorama) tuh jenius, selain seorang songwriter, jago main alat musik gitar sampai piano, dia juga punya vokal yang menurut saya mau nyanyi lagu apa aja enak buat didengerin. Kebetulan karena saya kenal baik dengan beliau, jadi saya cukup tau kalau beliau itu termasuk musisi Pinrang yang berbakat.

Kedua, ada Andi Hastri Wello. Kebetulan saya sama beliau masih ada hubungan keluarga, lebih tepatnya beliau itu sepupu papa saya. Beliau itu seorang musisi juga, hanya saja saya rasa beliau belum mendapatkan apresiasi yang semestinya dari anak muda Pinrang. padahal setau saya, nama Beliau cukup dikenal di Jakarta karena kebetulan juga beliau domisili Jakarta, padahal bugis banget aslinya๐Ÿ˜
ada satu lagu beliau yang jadi kesukaan saya. Judulnya Tok Tok Tok. Coba deh nanti minpin cari di Youtube dan dengerin!

Dan pastinya masih banyak lagi seniman dan musisi lain yg berbakat dan juga melahirkan karya-karya yang harus diapresiasi setinggi mungkin sama kita semua✨ bukan hanya di bidang musik, dibidang lain pun seperti itu.

Minpin : Noted kak. Masuk playlist. Nanti minpin dengar ๐Ÿ˜. Pertanyaan terakhir kak Mayang. Apa harapan kak Mayang terhadap ekosistem musik independen di kota Pinrang?

Mayang : Harapan saya semoga kedepannya industri musik Pinrang bisa lebih berkembang, bisa lebih diperhatikan oleh Pemerintah setempat juga hehe. Semoga juga lahir lebih banyak lagi musisi yang bisa memberikan karya-karya hebat dan membanggakan untuk Daerah kita.

Terakhir, self reminder untuk kita semua dan juga saya sendiri. Ayo kita lebih peduli dan lebih memberikan apresiasi terhadap karya-karya anak muda Pinrang dalam bidang apapun. Saling mendukung dalam hal kebaikan, berikan kesempatan untuk mereka yang berkarya. Itu aja minpin!

Minpin : Wah, terima kasih banyak atas waktunya kak Mayang! Semoga sukses terus karirnya dan ditunggu karya berikutnya kak ๐Ÿ˜๐ŸคŸ

Mayang : Aamiin.. terimakasih banyak yaaa minpin atas kesempatan ini๐Ÿ™๐Ÿผ
It’s a pleasure✨

Minpin : Ohiya dalam wktu dekat ada rencana lagi untuk rilis karya kah kak?

Mayang : Semoga yaaa. Kalaupun ada project baru, pasti saya announce di instagram kok. Doakan semoga bisa tetap berkarya terus dan kasih karya yg bisa dinikmati oleh banyak orang!๐Ÿ™๐Ÿผ☺️

Minpin : Aamiinn. Sama-sama kak Mayang

Mayang Koes Herawati adalah salah satu anak muda kota Pinrang yang berhasil melawan rasa ketidak percayaan dirinya dalam proses berkarya. Ini sebenarnya tidak luput dari support sistem yang sehat salah satunya dari komunitas dan teman-teman terdekat.

Karena pada dasarnya, karya tidak lahir dari mereka yang berbakat. Tapi dari mereka yang mau bertumbuh melawan rasa tidak percaya diri dan mereka yang selalu penasaran untuk mencoba hal yang baru.

PS : Konten Maccarita adalah persembahan dari teman-teman tim Pinrang Indie. Artikel dalam konten Maccarita akan berfokus membahas tentang obrolan seputar musik, seni dan tokoh-tokoh yang berpengaruh di bidangnya.

Minggu, 25 Desember 2022

Maccarita Vol.1 : Menakar Potensi Lagu Bugis di Era Digital dari Kacamata Yuki Vii



Semenjak era digital di mana segala informasi sudah tersebar di internet, penyebaran arus informasi musik tidak lagi berpusat pada media-media mainstream. Semua orang bebas mengakses musik favorit mereka masing-masing kapanpun dan dimanapun.

Internet seperti matahari yang menyinari sekat-sekat peta musik berdasarkan demografi, genre dan popularitas. Jargon "Musik akan menemukan penikmatnya" terasa makin logis untuk dicerna akal sehat.

Minpin akan membuka edisi Maccarita Vol. 1 ini dengan membahas tentang konsumsi musik lokal di kota Pinrang, dalam beberapa tahun terakhir ini. 

Lagu-lagu bugis yang dulunya hanya bisa dinikmati melalui kaset CD yang diperjual belikan di pasar atau lewat saluran Tv kabel kini merambah ke platform digital. Para pendengar lagu bugis yang dulunya hanya bisa dinikmati kalangan tua, kini menjangkiti kaum muda dan remaja.


Dalam tulisan kali ini, Minpin berkesempatan untuk mewawancarai Yuki Vii. Seorang penyanyi bugis yang tengah naik daun berkat beberapa single-nya yang berhasil viral dan menembus angka jutaan views di Youtube. Jika di Jawa ada Deni Caknan, maka di Bugis ada Yuki Vii.

Berikut wawancara singkat kami bersama Yuki Vii.

Minpin ; Halo kak Yuki, apa kabar?

Yuki Vii : Alhamdulillah baik.

Minpin ; Allhamdulillah. Ohiya. Sekarang lagi sibuk apa kak?

Yuki Vii : Sekarang lagi sibuk ngejob off air. Sambil promo single duet baru judulnya Sedding je nah. Sambil menanti rilis single solo saya. Kebetulan promo single duet saya ini adalah single duet saya yang ke tiga. Karena sebelumnya ada meloni yaga tette ni yola dan sabbarapi na jaji bareng Dewi Kaddi. 

Minpin ; Kalo boleh tau untuk lagu yang terakhir di rilis itu judulnya apa dan lagunya tentang apa kak?

Yuki Vii : Lagu terakhir itu berjudul Sedding je nah. Lagu ini bercerita tentang sepasang kekasih yang sudah berpisah tapi masih saling mencintai namun takdir sudah tdk bisa menyatukannya kembali.


Minpin ; Selama dikenal sebagai penyanyi bugis yang berfokus pada segmen lagu-lagu lokal. Lagu mana yang membuat Kak Yuki mulai di kenal luas di masyarakat?

Yuki Vii : Lagu pertama yang membuat saya di kenal sebagai penyanyi bugis yang pastinya lagunya Meloni yaga tette ni yola yang saya nyanyikan duet bersama dewi kaddi.

Minpin ; Kalau boleh cerita sedikit, kejadian apa yang menjadi titik balik Kak Yuki, mulai menyadari bahwa lagu Kak Yuki ini sudah mulai dikenal banyak orang? 

Yuki Vii : Kalau yang membuat saya sadar kalo lagu saya sudah terkenal. Yang pertama pasti viewers Youtube. Waktu itu dalam 3 bulan mencapai 1 jt lebih penonton. Dan pastinya kejadian kejadian misalkan kayak ngejob pasti banyak penonton minta foto. Trus undangan nge-job juga sudah mengalir banyak.


Minpin ; Menurut kak Yuki, bagaimana apresiasi masyarakat terhadap lagu-lagu bugis sekarang?

Yuki Vii : Apresiasi masyarakat sekarang mengenai lagu-lagu bugis sangat luar biasa. Kalo dari pandangan saya.

Lagu bugis sekarang sudah memasuki semua kalangan. Bahkan yang bukan suku bugis pun banyak yang suka lagu lagu bugis yang kekinian.

Minpin ; Dari karya-karya Kak Yuki, royalti mana yang paling besar penghasilannya? Adsense Youtube, undangan manggung atau hal lain?

Yuki Vii : Kalau masalah royalti itu beda beda. Saya tidak bisa memastikan bahwa apakah dari royalti youtube yang banyak ataukah dari undangan nge-job. Karna kan youtube berkepanjangan sementara kalau undangan nyanyi di waktu tertentu saja. Tapi kalau untuk sekarang yang paling banyak dari undangan nge-job (offair).

Minpin ; Apakah bekerja sebagai musisi yang memiliki target segmen lagu lokal bisa menghidupkan?

Yuki Vii : Kalau yang saya alami. Sangat bisa menghidupkan. Apalagi sekarang lagu bugis tambah naik. Lebih disukai banyak kalangan. Bahkan sampai suku lain pun tahu. Jadi kalau masalah itu saya jawab sangat menjanjikan asalkan tekun dalam berkarya.

Minpin ; Impian besar Kak Yuki sendiri sebagai penyanyi bugis apa kak?

Yuki Vii : Impian terbesar saya sbg penyanyi bugis. Semoga lagu bugis bisa mendunia. Bisa di sukai oleh suku lain. Lagu bugis muncul di stasiun tv nasional bahkan international. Itu harapan saya.

Minpin ; Pertanyaan terakhir untuk Kak Yuki. Apa harapannya untuk pasar lagu lokal sekarang?

Yuki Vii : Harapan utk pasar lagu lokal. Yaaa smoga minim pengcover yg tanpa ijin. Kalau bisa yg cover lagu harus ada ijin dr pencipta lagu. Dan smoga pengcover lagu berkurang. Dalam artian beralih ke pencipta lagu. Bukan mengcover lagu.

Minpin ; Wah, terima kasih banyak atas waktu dan kesempatannya kak Yuki. Sukses terus untuk project terbarunya.

Yuki Vii : Sama-sama. Sukses juga buat Pinrang Indie.

Menjamurnya lagu-lagu bugis di kota Pinrang tidak hanya menyebar melalui internet. Tapi juga merambah dari kafe ke kafe maupun acara-acara pernikahan. Setiap tempat hiburan atau jamuan pernikahan rasanya tidak lengkap tanpa di iringi dengan lagu-lagu bugis.

Menariknya, lagu-lagu lokal kini mulai masuk ke telinga anak-anak muda. Musik bukan lagi menjadi bahan justifikasi selera. Tapi lebih dari itu, musik adalah tentang kebanggaan dan kecintaan akan masyarakat terhadap kota kelahirannya.

PS : Konten Maccarita adalah persembahan dari teman-teman tim Pinrang Indie. Artikel dalam konten Maccarita akan berfokus membahas tentang obrolan seputar musik, seni dan tokoh-tokoh yang berpengaruh di bidangnya.